0

Sumpang Bita, Jejak Purbakala di Tengah Belantara

Posted by Fadhlan L Nasurung on 12:05 PM in
Welcome to Sumpang Bita
Perjalanan kali ini masih setia ditemani oleh skuter-matic hitamku, jalan yang lumayan ramai lancar membuat aku leluasa memacu kecepatan, memburu agar tak terlalu siang untuk sampai di lokasi. Hujan pagi itu sempat mengguyur hebat, sehingga kami harus mengalah untuk berteduh di sebuah stasiun pengisian bahan bakar (red-SPBU) di sekitar kota Maros beberapa saat, namun hujan bukanlah halangan berarti untuk sebuah tujuan yang begitu penting, menjenguk jejak-jejak masa lalu yang menjadi sumber referensi kedirian. Hanya butuh waktu satu sampai satu setengah jam dari kota Makassar untuk mencapai lokasi yang berada di kecamatan Balocci kabupaten Pangkep. Alam pemandangan yang masih asri menyambut dengan citra kesejukan yang terpancar dari hijaunya pohon yang memenuhi tebing-tebing terjal sejauh mata memandang, disamping area taman yang tertata rapi menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang datang berkunjung. Sebelumnya telah terlebih dahulu terjadi perdebatan yang alot untuk menentukan lokasi final examination (ujian akhir) dari kelas kursus bahasa Inggrisku di Forum Kampung Bahasa Sulawesi (FKBS), hingga keputusan harus ditunda hingga pertemuan akhir kelas, pada akhirnya semua sepakat memilih Sumpang Bita sebagai destinasi tempat dilaksanakannya ujian akhir kelas yang memang telah menjadi program.

Area Taman
Kawasan wisata purbakala Sumpang Bita memiliki taman yang luas, cocok untuk kegiatan rekreasi dan refresing untuk menghilangkan penat dari pengat aroma kota, sekaligus menjadi tempat wisata dan belajar tentang kehidupan pra-sejarah yang belum lama terungkap, sekitar awal tahun 1970-an oleh seorang pengembala, kemudian oleh dinas pariwisata dan kebudayaan pemerintah provinsi Sulawesi selatan dijadikan sebagai kawasan cagar budaya dan wisata sejarah. Setelah melewati area taman yang luas kita akan mulai meniti satu persatu tangga untuk menuju Leang (gua) yang merupakan lokasi utama dimana situs purbakala berada, menurut kabar, tangga menuju gua Sumpang Bita berjumlah seribu (tangga seribu), sehingga dibutuhkan energi ekstra untuk mendaki hingga sampai ke sana, sepanjang perjalanan yang paling menarik perhatian adalah keberadaan spesies kaki seribu yang ramai dijumpai di setiap sisi tangga, tangga seribu yang dihuni oleh kaki seribu tepatnya.

Tangga Seribu

Aku adalah penyuka sejarah, cerita, situs dan segala yang bersangkut paut dengannya, lagi pula aku telah memilih untuk kuliah dan mengambil jurusan sastra yang sangat akrab dengan kehidupan sejarah, meskipun banyak yang bilang sejarah adalah objek kajian paling membosankan, penuh dengan mitos dan terkadang banyak melahirkan kontroversi, sejarah adalah dongeng pengantar tidur yang hanya cocok bagi anak-anak yang belum memasuki usia belasan. Asumsi itu lahir mungkin disebabkan oleh cara pandang melihat sejarah yang terlalu usang dan masih menggunakan paradigma anak-anak, sehingga sejarah hanya distigmatisasi sebagai kejadian masa lalu yang tak punya kaitan dengan kehidupan sekarang dan yang akan datang.

Secara leksikal sejarah berasal dari kata bahasa arab sajaratun yang berarti pohon, mengapa harus meminjam kata yang dalam bahasa arab berarti pohon untuk mewakili peristiwa yang terjadi di masa lalu? Saya kira bukan hal kebetulan ketika para ahli bahasa menyepakati kata sejarah untuk mengistilahkan sebuah kejadian yang telah berlalu, ketika kita menyimak siklus hidup tumbuhan, kita akan mendapatkan sebuah proses yang teratur dan berkesinambungan. Akar, batang, ranting, daun dan buah adalah organ inti yang saling terhubung, semuanya terikat dalam sebuah kaedah kausalitas, sama halnya dengan sejarah yang merupakan sebab-akibat dari berbagai kejadian dan peristiwa. Sehingga pohon adalah prototipe sebuah deskripsi sejarah. 

Tidak semua kejadian masa lalu direkam oleh teks-teks sejarah, hanya yang mengandung nilai, pengaruh dan momen berhargalah yang mendapat tempat untuk diabadikan. Itu karena belum ada alat super canggih yang mampu merekam segala peristiwa hingga yang paling kecil dan remeh-temeh, bahkan oleh manusia secerdas apapun, kecuali bagi yang telah mendapat anugerah dari sang Khalik. Sehingga hanya peristiwa penting, monumental dan mengandung ibrahlah yang akan dicatat sebagai representasi dari peristiwa yang ada. Bagi saya sejarah tidak melulu hanya menyangkut masa lalu. Sejarah merupakan sebuah proses dialektis antara masa lalu masa sekarang dan masa yang akan datang, tak ada peristiwa yang yang tunggal, karena setiap yang terjadi saling terkait satu sama lain, sama halnya bahwa tidak ada pengetahuan yang tunggal, yang ada adalah relasi-relasi dari berbagai hal yang kita ketahui kemudian menjadi sebuah pengetahuan. Mengapa penting mengetahui sejarah, karena kita adalah mahluk yang hidup dan terus bergerak dalam proses, diampun sebenarnya berada dalam kuasa proses, karena tak ada sesuatu yang statis di dunia ini, kalaupun ada toh semuanya akan digilas oleh waktu, karena waktu diciptakan untuk membuktikan bahwa Tuhanlah sang pemilik keabadian.

Di Salah Satu Sudut
Sumpang bita merupakan sebuah bukti tentang adanya fakta kehidupan masa lampau yang perlahan dilupakan karena kurangnya penghayatan terhadap identitas lokal-kultural masyarakat kita yang tersandera oleh modernitas, modernitas yang didefinisikan dengan sangat materialis-positivistik, padahal dalam alam bawah sadar masyarakat kita, corak kebudayaan lokal-oriental masih sangat terasa dalam dimensi pemikiran dan kehidupan nyata. Saya meyakini bahwa ada tiga organ kehidupan paling vital yang tidak boleh kita lupakan apalagi kita tanggalkan sama sekali, yakni 1. Organ Spiritual dimana keyakinan terhadap Tuhan adalah sesuatu yang mutlak adanya. 2. Organ kultural, manusia merupakan mahluk yang dilahirkan pada sebuah realitas cultural yang tak terelakkan, kita tak pernah memilih untuk menjadi atau dilahirkan di Indonesia, Arab, Sulawesi, Jawa, Papua dsb, tetapi hal itu merupakan kodrat dari yang maha kuasa untuk kita jaga eksistensi dan kelestariannya. 3. Organ sosial, manusia adalah zoon politicon (kata Aristoteles) sehingga ia tak akan pernah dapat hidup tanpa kehadiran dan peran manusia serta mahluk hidup lain (Binatang, Tumbuhan) bahkan benda mati sekalipun, sehingga sikap saling menolong, menghargai dan memanusiakan adalah sebuah kemestian, adapun mendayahgunakan potensi alam adalah dengan tidak melampaui batas serta tetap menjaga keberlangsungan ekosistemnya, demi terciptanya harmoni kehidupan.

Situs Perahu & Babi Rusa
Selain Sumpang Bita, mungkin kita lebih mengenal taman purbakala Leang-leang yang terletak di kabupaten Maros, selain karena sering menjadi destinasi para wisatawan dan pemburu berita, juga karena Leang-leang dekat dengan kawasan rekreasi taman nasional Bantimurung, sulit rasanya menyimpulkan perbedaan dan persamaan antara kedua situs tersebut, karena saya belum pernah sekalipun menziarahi Leang-leang (semoga dalam waktu dekat saya berkesempatan), tetapi dari informasi lisan dan tulisan yang saya dapat, kedua situs tersebut memiliki kemiripan yang signifikan, sehingga banyak arkeolog yang menyimpulkan bahwa peninggalan purbakala di dua gua tersebut adalah milik manusia pra-sejarah yang masih dalam kelompok yang sama.

Lukisan Telapak Tangan dan Anoa (samping kanan atas)
Kealamian yang begitu mempesona, ditengah rimbun pohon menjulang. Ada peristiwa penting pernah terekam di titik ini, ribuan tahun silam. Ada tanda-tanda kehidupan yang lama membisu di tengah belantara, hingga kita lupa siapa dan darimana kita, semakin jauh kaki menapaki tangga, semakin dingin keingintahuan memburu. Biarkan sekalian indra, pikiran dan rasa bermeditasi. Tempat itu menjadi surga bagi species kaki seribu, mereka menyambut dengan ramah. Ruh yang melingkupi kehidupan pra-sejarah memang terlalu rumit. Ada energi kejayaan masa lalu yang terkubur oleh puing ketidaksadaran. Kita adalah bangsa yang telah menghuni daratan ini, sejak ribuan tahun yang begitu lampau. Sepanjang jalan alam berbisik lantang "maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?"

Lukisan Cap Tangan
Hari itu sebuah perjalanan jelajah melintasi ruang kehidupan masa lampau menemukan sedikit pengobat rasa penasaran tentang kehidupan masa lalu yang akan terus menjadi misteri, proses penggalian makna dari simbol-simbol telapak tangan, babi rusa, anoa, dan perahu tak akan pernah selesai. Seolah-seolah kehidupan masa lalu mengajarkan kita tentang proses sejarah yang telah, sedang dan akan terus berlangsung untuk kita hayati lalu memetik pelajaran darinya, dimana ada yang akan ditinggalkan dan dilupakan oleh zaman, ada yang hanya akan meninggalkan tanda-tanda kehidupan yang rumit untuk diterjemahkan, serta ada pula yang akan tetap hidup dalam spirit, pikiran, imajinasi dan hati manusia dalam lintas ruang dan waktu yang berbeda. Seperti para Nabi dan penerus risalahnya, yakni para pejuang kebenaran, kemerdekaan, keadilan dan kemanusiaan yang senantiasa abadi karena semangat, ide besar serta jasa-jasanya.

FKBS Speaking Class

|

0 Comments

Post a Comment

Copyright © 2009 Manusia Cipta All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.