0

Sekolah Tanpa Batas

Posted by Fadhlan L Nasurung on 3:22 PM in

Memaknai Sekolah

Tahu tidak bahwa dulu pada awal sejarahnya, sekolah adalah taman pendidikan yang luas dan terbuka, sekolah yang dalam bahasa Yunani berarti waktu luang (scholae) dibentuk untuk menjadi sarana belajar sejumlah siswa, untuk mendpat pendidikan lebih di samping pendidikan yang di berikan ke dua orang tua mereka. Sekolah pada fase itu dalam imaji penulis adalah sekolah tanpa beban dan tekanan, sekolah yang membahagiakan sekaligus mendorong peserta didiknya untuk berangan dan bermimpi tentang kehidupan yang mereka cita-citakan.

Di era sekarang, ketika mendengar kata “sekolah” fikiran kita akan langsung tertuju pada deretan bangunan yang berisi meja dan kursi, papan tulis dan perangkat-perangkat pembelajaran lainnya. Sejak mengenal dunia sekolah, kita mulai berteman dengan huruf, angka-angka, teori hingga tumpukan kertas dan buku-buku, sekolah mengkondisikan kita untuk mencintai itu semua, atau paling tidak “memaksa’ kita untuk mau sekedar tahu (to know), kemudian mendorong kita untuk mau memahami (to understand). Mereka yang bersekolah pelan tapi pasti akan mulai diusik oleh berbagai tuntutan akan prestasi, keberhasilan dan kesuksesan, tentunya dengan menggunakan definisi yang di anut oleh sekolah selama ini.

Saat ini dalam dunia pendidikan formal kita, institusi pendidikan bernama sekolah mulai dibentuk dari tingkat usia dini (PAUD), hal itu berangkat dari obsesi besar dunia pendidikan kita untuk merancang generasi terpelajar dan terdidik sejak usia dini, generasi yang dicita-citakan menjadi penerus bangsa di masa depan, oleh karenanya sekolah seolah menjadi yang paling bertanggungjawab untuk mengisi setiap detil dari entitas kemanusiaan seorang yang mengenyam bangku persekolahan. Sayangnya kerapkali hal itu berlangsung dalam relasi dominasi-subordinasi, para peserta didik seringkali didikte untuk meminati berbagai macam judul-judulan pengetahuan dan keterampilan, walaupun naluri dan keinginan mereka tak menunjukkan ke arah yang dimaksud oleh si pemegang otoritas (guru sebagai pelaksana kurikulum dan pemerintah sebagai pembuat kurikulum pendidikan). 

Padahal sejatinya siswa haruslah diajak untuk memahami potensi yang mereka miliki, membina, membimbing dan mengarahkan mereka untuk mengembangkan potensi tersebut, dimana ketika proses yang terjalin antara guru-murid menciptakan komunikasi dan interaksi yang efektif serta relasi yang positif, lambat laun merekapun akan menyukai dan mencintai proses yang sedang dan mereka lalui. Yah, suka dan cinta menjadi capaian tertinggi bagi mereka yang ingin menikmati proses  dalam makna yang seluas-luasnya, karena setiap proses tanpa dilandasi suka dan cinta, seringkali hanya menghasilkan susah-payah, beruntung jika tidak berakhir dengan kegagalan. Penting mengajarkan para siswa untuk menghargai dan mencintai proses, tidak melulu terpaku pada hasil, sehingga siswa akan belajar memaknai kegagalan sebagai bagian dari proses, bukan akhir yang membuatnya patah semangat bahkan putus asa. Memberi keyakinan kepada mereka agar tidak melihat semua yang terjadi hanya sebagai hasil, tetapi sebagai akumulasi dari proses yang mungkin belum selesai.

Sekolah seharusnya menjadi miniatur kehidupan, dimana mereka yang mengenyam pendidikan di sana dapat merasakan kehadiran dirinya di tengah-tengah alam semesta dan beraneka rupa realitas kehidupan ummat manusia, proses belajar tidak hanya terpenjara dalam teks yang termaktub dalam kitab-kitab pelajaran, lebih jauh para pendidik mengantar para siswa untuk melihat kehidupan (realitas) secara lebih utuh dan dalam, proses belajar tidak berhenti pada seeking knowledge (mencari pengetahuan) tetapi lebih jauh pada seeking meaning (mencari makna) dan bulding self skill (membangun keterampilan diri) agar generasi sekolah dapat belajar memaknai kehidupan berikut segala hal yang terjadi di sekitarnya, serta memiliki kompetensi diri agar mampu bersaing dalam kompetisi yang semakin ketat saat memasuki dunia kerja. Semua idealitas itu menuntut adanya suprastruktur dan infrasttuktur pendidikan yang baik dan tersedianya tenaga pendidik yang cerdas, kreatif dan imajinatif, serta memiliki kapasitas multidimensi, tidak terbatas hanya pada subjek (pelajaran) yang diajarkannya.

Nalar Ruang

Di era keterbukaan informasi saat sekarang ini, akses informasi dan pengetahuan tidak hanya didapatkan melalui pendidikan di bangku sekolah, internet dengan berbagai macam fasilitas yang disajikan, menjadi sebuah ruang virtual yang terkadang lebih berperan signifikan dalam membentuk kesadaran siswa, ditambah televisi yang telah menjadi sebuah dunia dimana referensi hidup banyak ditayangkan di sana, bahkan ia telah menjadi sebuah ruang pendidikan  yang menyajikan banyak pelajaran kepada masyarakat, tak terkecuali mereka yang masih berstatus “anak sekolah” dalam bebagai tingkatan, walaupun apa yang disajikan seringkali tak mengandung makna dan nilai edukasi.

Peran strategis guru sebagai pendidik di sekolah sebenarnya sedikit terbantu oleh berbagai media informasi tersebut, hanya saja media informasi seringkali hanya mentransfer informasi dan pengetahuan (knowledge), tanpa melakukan transfer nilai (value), baik nilai-nilai yang berasal dari ajaran agama, maupun nilai-nlai yang berasal dari kebudayaan lokal masyarakat. Sehingga peran seorang pendidik menjadi sangat penting utamanya dalam melakukan sosialisasi nilai-nilai luhur untuk membentuk generasi yang berkarakter dan bermoral serta memiliki tata etika yang baik dalam interaksi sosialnya.

Sejatinya ruang lebih jauh mencakup bagian terdalam dari alam semesta dan dimensi kemanusiaan kita, tidak hanya semata pada pemaknaan spasial yang dibatasi oleh kaedah-kaedah materil, dinding dan tembok yang megah berdiri. Ruang bukan hanya mencakup dimensi yang mampu kita indrai, tetapi lebih dalam melampau batas-batas fisik dimana pengetahuan, makna dan kesejatian (hakikat) bersemayam. Perjalanan seorang pembelajar adalah pencarian makna-makna dibalik realitas, oleh karena itu semakin banyak kita menjumpai realitas, semakin kita  memiliki cara pandang yang terbuka dan wawasan yang luas, sehingga memungkinkan kita untuk menjangkau realitas di balik realitas (kebenaran hakiki), karena tak semua yang meiliki pengetahuan mampu mencapai level tersebut, seperti yang diisyaratkan ungkapan “many have eyes but can not see” (banyak yang memiliki mata, tetapi tak mampu melihat).

Seorang terpelajar bukanlah mereka yang hanya menghabiskan waktu di dunia sempit bernama “sekolah” dan terjebak dalam nalar ruang yang kerapkali membatasi cara pandang (paradigma), berjibaku dengan waktu untuk mengejar angka-angka indeks prestasi kumulatif sesempurna mungkin, giat mengerjakan tugas, menghadiri seminar-seminar dan mengerjakan soal-soal ujian secara cermat kemudian tiba di garis finish dengan prestasi cumlaude. Seorang terpelajar adalah mereka yang juga memiliki keyakinan yang kuat, moralitas yang baik, peka terhadap realitas dan memahami apa yang terjadi di sekitarnya, bahkan sebisa mungkin terlibat dalam membela kepentingan masyarakat dan memperjuangkan hak-hak kaum marginal dan tertindas (mustadh’afin), inilah yang kemudian dalam istilah Ali Syariati disebut rausyan fikr (intelektual yang tercerahkan) atau dalam terminologi Antonio Gramsci sebagai  intelektual organik dan dalam bahasa Al-quran diistilahkan sebagai insan Ulul Albab, itulah tingkatan kualitas tertinggi bagi seorang manusia terdidik.

Sekolah tidaklah terbatas pada tempat dengan gedung-gedung yang biasanya hanya memberi proporsi sedikit untuk taman dan halaman sebagai refleksi mini dari alam,  dimana kantor dan ruang guru terpisah dengan ruang kelas dimana siswa belajar. Ruang belajar yang berisi bangku, papan tulis, dan fasilitas audio visual, juga terdapat bangunan tempat ibadah, perpustakaan , ruang laboratorium, lapangan olahraga (sport center) hingga ruang pengembangan kraetifitas. Semua deskripsi itu mungkin hanya dijumpai di sekolah-sekolah berkelas (elit), dimana realitas yang jauh berbeda akan kita jumpai di wilayah-wilayah yang jauh dari akses kemajuan dan pembangunan, apalagi di daerah tertinggal dan terisolir, begitulah wajah pendidikan di negeri kita, penuh distingsi dan disparitas atas nama statifikasi sosial dan ekonomi, tanpa perlu menyebut satu per satu segala kekurangan yang ada.

Sekolah lebih luas dari sekedar berbicara soal ruang yang dibatasi oleh identitas ‘’bersekolah”, dalam makan yang terbatas, karena itu hanya berlaku bagi sekolah dalam dunia pendidikan formal. Sama halnya dengan guru, guru sejatinya bukanlah identitas ekslusif milik para pendidik dan pengajar bersertifikat yang mengadikan diri di sekolah-sekolah formal, guru adalah gelar bagi siapa saja yang mampu memberikan pengetahuan, pemahaman dan pencerahan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kita akan senantiasa menemukan sekolah dan guru dimanapun kita memijakkan kaki di bumi ini. Sebagaimana adagium “everyone is a teacher and every place is a school” (semua orang adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah).

|
0

Jejak Perjalanan

Posted by Fadhlan L Nasurung on 12:55 PM in


Kita belum sama sekali tiba
Kita baru sekedar memulai, bergerak menuju langkah demi langkah
Di jalan-jalan yang kita yakini sebagai jalan-Nya
Sesekali menengok gugus peristiwa dan rentang waktu yang terlewatkan

Mungkin beberapa orang mengira bahwa sederet kisah hanya untuk cerita masa tua
Selaksa suka-duka yang datang silih menerpa
Kiranya juga hadir dengan segala plus-minus sejarah
Kita, biarlah turut jadi pembaca yang coba menduga, semua fakta atau hanya omong belaka

Ada ranah tempat jejak-jejak terjamah
Di antara sisa-sisa kejujuran yang masih tersandera
Di balik rupa
Di kedalaman sukma

Kita belum juga tiba
Kita baru saja beranjak dari titik percaya
Di kaki langit semesta
Ada Tuhan sedang menanti hamba, bukan raja!

|
0

Sarjana dan AFTA

Posted by Fadhlan L Nasurung on 1:25 PM in


Beberapa minggu terakhir beberapa kampus besar swasta dan negeri di Makassar menggelar acara wisuda sarjana, ribuan mahasiswa memperoleh gelar kesarjanaan sesuai dengan jurusan/program study masing-masing. Menjadi sarjana merupakan sebuah kebanggan tersendiri bagi mereka yang telah menyelesaikan proses belajarnya di perguruan tinggi, kebanggaan dan kebahagiaan terutama menghampiri para orang tua yang dengan segala daya dan upaya berjuang untuk menyekolahkan anaknya hingga dapat meraih gelar yang dicita-citakan. Khususnya mereka yang hidup dengan kondisi ekonomi lemah, dapat membiayai pendidikan putra/putrinya hingga dapat menggunakan toga sarjana menjadi keberhasilan tersendiri yang tak bisa dihargai dengan angka-angka dan nominal materi, apa yang menjadi harapan mereka adalah agar putra/putrinya dapat menjadi generasi yang berguna bagi agama, bangsa dan negara dengan senantiasa berbakti kepada kedua orang tuanya.

Paradigma Kuliah

Pendidikan adalah panglima bagi pembangunan sumberdaya generasi muda bangsa, sekaligus menjadi sokoguru bagi kemajuan negara dan bangsa dalam berbagai bidang. Pendidikan tidak hanya soal pencapaian angka-angka kuantitatif tetapi lebih jauh dari itu bagaimana menciptakan generasi terbaik. Teringat salah satu pesan Pak Kalend Osen (salah seorang pendiri Kampung Bahasa Pare-Kediri) ketika penulis berkesempatan belajar di kota kecil itu, beliau berkata bahwa “pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, tetapi juga soal pembentukan karakter“. 

Seorang mahasiswa bukanlah mereka yang hanya menghabiskan waktu di dunia sempit bernama “bangku perkuliahan” dan terjebak dalam nalar ruang yang kerapkali membatasi cara pandang (paradigma), berjibaku dengan waktu untuk mengejar angka-angka indeks prestasi kumulatif (IPK) sesempurna mungkin, giat mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, menghadiri seminar-seminar dan mengerjakan soal-soal ujian secara cermat kemudian tiba di garis finish dengan prestasi cumlaude, namun mahasiswa adalah mereka yang juga memiliki keyakinan yang kuat, moralitas yang baik, peka terhadap realitas dan memahami apa yang terjadi di sekitarnya, bahkan sebisa mungkin terlibat dalam membela kepentingan masyarakat dan memperjuangkan hak-hak kaum marginal dan tertindas (mustadh’afin), inilah yang kemudian dalam istilah Ali Syariati disebut rausyan fikr (intelektual yang tercerahkan) atau dalam terminologi Antonio Gramsci sebagai  intelektual organik dan dalam bahasa Al-quran diistilahkan sebagai insan Ulul Albab, itulah tingkatan kualitas tertinggi bagi seorang manusia terdidik.

Ada sebuah adagium yang diberpegangi di dunia pesantren bahwa ilmu bukan untuk ilmu, tapi ilmu adalah untuk amal, yang berarti bahwa pengetahuan harus senantiasa mampu berdialog dengan realitas, bahkan terdapat kondisi dimana pengetahuan harus mampu menjadi spirit dalam merubah realitas yang timpang dan tidak adil. Semua itu harus dimulai dan terus dipupuk serta dilatih sejak dari mahasiswa, karena keyakinan bahwa mahasiswa sejati bukanlah kaum reaksioner yang mengedepankan emosi dan kekuatan fisik dalam menyikapi persoalan, melainkan kaum terpelajar yang senantiasa bertindak atas nama kebenaran dengan rasionalitas dan nilai etis yang dijunjung, karena kaum reaksioner tak ubahnya seperti macan kertas, dalam masyarakat Makassar sikap seperti itu sering diistilahkan pa'bambangngang na tolo.

Dunia pendidikan kita tidak seharusnya mengajarkan peserta didik untuk bersekolah dengan tujuan bekerja, karena kerja bukanlah tujuan sekolah, bekerja adalah salah satu bagian kehidupan yang harus dijalani setiap manusia yang ingin tetap hidup, termasuk mereka yang tak pernah mengenyam bangku sekolah sekalipun. Sekolah harus mengajarkan peserta didiknya untuk menjadi insan yang berkarakter, dengan karakter lokal, berkepribadian religius, berwawasan global serta berkemampuan profesional. Seorang sarjana yang merupakan manusia terpelajar harus memiliki tekad yang kuat untuk membangun masyarakat dan bangsanya, bagaimana caranya? Itu bergantung pada kualitas dan kapasitas ikhtiar masing-masing.

AFTA dan Latahnya Kita

Di akhir tahun 2015 Asean Free Trade Area (AFTA) atau yang juga dikenal dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan bergulir, keterbukaan interaksi ekonomi kawasan akan menyebabkan tsunami tenaga kerja dari berbagai negara di Asia tenggara, Indonesia sebagai salah satu market destination (tujuan pasar) terbesar di dunia tentunya akan menjadi negara yang paling merasakan dampak dari dibentuknya regionalisme ekonomi Asean, sejak dini pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menghadapi tantangan tersebut, namun segala upaya tersebut rasa-rasanya akan berjalan timpang jika tidak dimulai dari sektor pendidikan yang memegang peranan paling vital.

Sistem pendidikan formal kita yang umumnya menitikberatkan pada kemampuan kognitif akan mengalami kemandulan menghadapi masyarakat ekonomi Asean, apalagi di era kemajuan teknologi dan open society (masyarakat terbuka) yang meniscayakan terbentuknya paradigma kerja yang mengedepankan kompentensi berbasis penguasaan teknologi informasi dan bahasa asing, justru yang paling merespon tuntutan tersebut adalah dunia pendidikan non-formal dalam bentuk lembaga-lembaga kursus. Sehingga wajar saja ketika lembaga-lembaga kursus information technology (IT) dan bahasa asing (utamanya bahasa Inggris) semakin menjamur bak cendawan di musim penghujan, karena konsumen penyedia jasa layanan keterampilan tersebut kian membludak karena latah menghadapi persaingan bursa kerja yang akan semakin sulit dan ketat setelah AFTA resmi dimulai.

Tak sedikit sekolah dan kampus yang juga ikut latah mempersiapkan diri untuk menyambut terwujudnya masyarakat ekonomi Asean dengan mengadakan kerjasama-kerjasama untuk meningkatkan kemamapuan peserta didiknya dalam dua kemampuan dasar tersebut. Aneh ketika dunia pendidikan dibuat panik oleh akan digelarnya AFTA, itu menjadi salah satu isyarat bahwa kita memang masih saja memegang prinsip tiba masa tiba akal, kita (khususnya pemerintah) belum cukup pandai membaca gerak dan alur zaman, sehingga tak bisa mencanangkan program jangka panjang bagi negeri ini, dalam dunia pendidikan misalnya, setiap kali berganti periode kepemimpinan, maka berganti pula kurikulum pendidikannya. Belajar kepada negara tetangga kita Malaisya yang nampaknya jauh sebelumnya telah mempersiapkan diri menghadapi era keterbukaan dan regionalisme dalam berbagai sektor. 

AFTA adalah tantangan terdekat bangsa ini dalam kurun beberapa bulan kedepan, semoga kita tak lagi di buat kalah di negeri sendiri. Produk-produk asing, dari kebudayaan hingga barang dan jasa telah memenuhi segala lini kehidupan sosial-ekonomi di negri ini, semoga kondisi itu tidak bertambah parah setelah dibukanya gerbang AFTA yang dampak negatifnya tentu secara signifikan akan dirasakan oleh mereka yang lemah secara pengetahuan, skill, mental dan finansial. 

Akhirnya selamat datang kepada para sarjana di dunia kerja, sambil menanti genderang AFTA ditabu direpublik tercinta.

|
0

Doa Untuk Gurutta'

Posted by Fadhlan L Nasurung on 8:08 AM in


Dalam sejarah penyebaran Islam, para Ulama memegang peran nomor wahid dalam proses transmisi dan tranformasi ajaran Islam dari generasi ke generasi dan dari satu tempat ke tempat lainnya, hingga kini Islam menjadi agama yang dianut oleh hampir seperempat dari jumlah manusia yang hidup di bumi dan tersebar dihampir seluruh pelosok jagad. Ajaran Islam disebarkan melalui berbagai cara dan metode, dari pendekatan politik kekuasaan hingga pendekatan kebudayaan. Penyebaran islam melalui otoritas politik dalam sejarah dilakukan oleh para penguasa muslim yang menjadi pemimpin dalam sebuah Negara (daulah) baik dengan cara perjanjian damai (arbitrase), maupun dengan cara penaklukkan wilayah, dengan senantiasa berusaha menghindari pemaksaan keyakinan kepada penganut agama lain diwilayah taklukan. Sedang penyebaran Islam melalui pendekatan kebudayaan dilakukan oleh para Ulama sufi yang senantiasa menempuh jalur dialog untuk mencari titik temu dengan agama dan keyakinan lokal masyarakat setempat yang berlangsung secara kultural dan gradual.

Ulama Ummat

Di Indonesia Islam menjadi agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat, masyarakat Islam Indonesia yang terdiri dari berbagai latar belakang social dan budaya dengan tingkat pendidikan berbeda-beda, tak mungkin seluruhnya dapat mengkaji dan mengambil produk hukum dari Al-Qur’an dan Hadist secara langsung, sehingga dibutuhkan peranan para Ulama yang diyakini memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni, hal itu direfleksikan melalui keluhuran ahlak dalam berinteraksi dengan masyarakat luas, tanpa memandang status sosial mereka. Untungnya di Indonesia terdapat banyak organisasi masyarakat (ormas) Islam yang senantiasa berkontribusi aktif dalam mendakwahkan, membangun dan menyebarkan pemahaman kepada Ummat tentang berbagai hal yang menyangkut ajaran Islam. Sebut saja Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Daru Da’wah wal Irsyad (DDI), Sarekat Islam, Wahdah Islamiyah dan banyak lainnya. Masing-masing ormas tersebut memiliki Ulama-ulama yang senantiasa menjadi rujukan dalam menggali pemahaman seputar ajaran Islam, baik yang berdimensi ukhrawi maupun duniawi. 

Ormas-ormas Islam tersebut memiliki perbedaan hanya dalam beberapa soal-soal furuiyyah (cabang-cabang ajaran agama) , namun tetap sama dalam soal ushuliyyah (prinsip ajaran agama), sehingga sering terjadi perdebatan-perdebatan tentang perkara-perkara yang diterima oleh ormas yang satu namun ditolak oleh ormas lainnya. Namun semua itu harus dipandang sebagai bagian dari dinamika pemahaman dan khazanah ajaran agama islam.

Beberapa Ulama dari ormas tersebut diikuti bukan saja oleh ummat Islam dalam komunitas organisasinya, tetapi juga oleh kalanagan ummat Islam secara luas, bahkan terdapat Ulama yang juga diterima dan dihormati oleh tokoh-tokoh agama lain, karena sikap moderasi dan toleransinya yang tinggi.

Ulama yang berasal dari terminologi bahasa arab berarti orang yang memiliki ketinggian ilmu yang berbeda dari kebanyakan mereka yang memiliki ilmu, istilah ini berbeda dengan ‘alim yang berarti orang yang berilmu sebagaimana manusia yang memiliki ilmu pada umumnya. Para Ulama memiliki maqam spiritual yang berbeda-beda, pada beberapa Ulama kharismatik seringkali dijumpai hal-hal istimewa yang diyakini sebagai tanda-tanda kewalian (karamah), kewalian menunjuk pada sebuah kualitas spiritual seorang Ulama yang akan senantiasa memancarkan kerahmatan dan keberkahan karena kedekatannya dengan Sang Khalik. Sehingga tak heran ketika masyarakat seringkali mendatangi Ulama-ulama kharismatik, baik dengan tujuan menuntut ilmu ataupun sekedar bersilaturrahim sebagai wasilah (media) untuk memperoleh keberkahan dari Allah swt. Harus difahami bahwa keulamaan bukanlah gelar yang disematkan kepada sesorang secara legal-formal, tetapi merupakan hasil konsensus masyarakat luas yang lahir dari kesadaran kolektif untuk memuliakan seseorang yang memiliki ketinggian, kedalaman dan keluasan ilmu yang kemudian mengabdikan diri untuk membimbing, mencerahkan dan mengayomi ummat.

AGH Sanusi Baco Lc

Anre Gurutta’ merupakan sebutan lain dari Syaikh (bahasa arab) atau kiyai (bahasa jawa), yang merupakan gelar keulamaan dalam masyarakat Bugis-Makassar. Hal Ini menjadi isyarat bahwa proses penyebaran Islam di Sulawesi selatan umumnya berlangsung secara kultural, para Ulama senantiasa menggunakan istilah-istilah lokal yang akrab dengan  masyarakat dalam proses dakwahnya, inilah yang oleh Gus Dur disebut sebagai pribimusasi Islam, sehingga ajaran Islam mudah difahami dan diterima oleh masyarakat. 

Penulis pernah nyantri di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum yang terletak di Kabupaten Maros, pesantren tersebut berdiri tahun 2001 dibawah pimpinan AGH Sanusi baco Lc. Gurutta’ sanusi (sapaan akrab beliau) merupakan Ulama kharismatik Sulsel yang dikenal dengan kelembutan sikap dan tutur katanya, beliau adalah ketua MUI Sulsel yang tak tergantikan sejak diberi amanah untuk menahkodai organisasi para Ulama ini, beliau juga sekaligus sebagai Rais Syuriah Nahdlatul Ulama Sulsel. AGH. Sanusi Baco adalah satu diantara banyak tokoh Islam yang dapat diterima oleh ummat Islam secara luas dari berbagai kalangan dan golongan. Bahkan beliau juga memiliki hubungan yang baik dan penuh keakraban dengan banyak tokoh-tokoh lintas agama, ini menunjukkan kualitas keulamaan beliau yang benar-benar merefleksikan Islam yang rahmatan lil alamin.

Telah beberapa pekan AGH. Sanusi Baco dirawat di rumah sakit, beliau dirawat selama semingu lebih di rumah sakit Awal Bros Makassar, sebelum dirujuk ke rumah sakit Jantung Harapan Jakarta, dimana pada tahun 2009 beliau juga sempat mendapatkan perawatan disana. Pada jumat (5/12/2014) sempat beredar kabar melalui blackberry messenger (BBM) bahwa beliau telah wafat, namun kabar yang mengagetkan banyak kalangan tersebut ternyata hanyalah hoax yang bersumber entah dari siapa. Pasca beredarnya kabar tersebut penulis menyempatkan diri menjenguk beliau di ruang perawatannya, dalam perjumpaan yang sangat singkat itu,kondisi  beliau terlihat semakin membaik. Semoga beliau segera diberi kesembuhan untuk kembali hadir di tengah-tengah Ummat, apalagi di usia beliau yang kini telah menginjak 77 tahun, besar harapan agar beliau senantiasa diberi kesehatan dan usia yang panjang, mengingat Ummat masih sangat membutuhkan sosok Ulama seperti beliau, yang senantiasa mengajarakan ilmu sekaligus ketauladanan.

|

Copyright © 2009 Manusia Cipta All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.