Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts
0

Aku Bertanya Maka Aku Ada

Posted by Fadhlan L Nasurung on 12:04 PM in

Ingatkah ketika anda masih kanak-kanak? Sekitar usia tiga sampai dua belas tahun, ketika anda mulai belajar mengeja kata, atau telah mahir memanggil sapaan “mama” dan “papa”, mungkin banyak diantara kita yang telah lupa. Saat itu sebenarnya kita menjelma menjadi seorang “filsuf cilik” yang mulai belajar tentang nama benda-benda di sekitar kita, mulai beradaptasi dengan bunyi-bunyi (red-bahasa) yang menghiasi keseharian kita, sebuah fase awal mengenal kehidupan walau belum sampai pada tahap memahami. Sewaktu berada pada masa kanak-kanak mungkin kita belum menjadi seorang yang mampu berfikir secara sempurna, sehingga apa yang sering kita lakuakan adalah bertanya tentang berbagai hal yang ada dan yang terjadi di sekeliling kita. Gaya bertanya yang senantiasa diiringi kepolosan hingga kelucuan yang memancing gelak-tawa.

Bertanya Filosofis

Bertanya, sebuah kata yang terkadang mengandung makna yang sangat tendensius, mungkin bagi salah satu kebudayaan yang ada di dunia ini, bertanya merupakan sebuah hal yang terlarang, apalagi tentang sesuatu yang dianggap sakral. Sehingga yang ada adalah budaya menerima segala sesuatu sesuai dengan wujud empiriknya atau sesuai dengan dogma yang ada dalam masyarakat. 

Dalam sejarahnya filsafat selalu berangkat dari pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai hal yang menyangkut dunia dan kehidupan (alam, manusia hingga Tuhan), ketika Thales mempertanyakan tentang urstof (unsur dasar) alam semesta, dalam proses pencahariannya ia mengamati berbagai gejala kehidupan di sekitarnya. Manusia, hewan dan tumbuhan tak dapat hidup tanpa air, hujan yang mengobati kekeringan, kesedihan yang menyebabkan keluarnya air mata saat seseorang menangis, hingga janin yang berasal dari air mani membuat Thales berfikir bahwa unsur dasar alam semesta adalah air. Hipotesa Thales tersebut mendapat bantahan dari filsuf-filsuf setelahnya, seperti Anaximenes yang mengatakan bahwa urstof alam semesta adalah udara dan Heraclitos yang mengatakan bahwa apilah yang menjadi unsur dasar dari alam semesta. Kontradiksi-kontradiksi para filsuf tersebut tentunya berawal dari pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan metode berfikir yang berbeda, sehingga membuat mereka berkesimpulan berbeda-beda. 

Dari beberapa buku filsafat yang pernah saya baca Thales selalu berada diurutan pertama deretan para filsuf, dia hidup sekitar tahun 600 SM, sampai saat ini saya belum percaya pada hal itu, karena saya berfikir bahwa mana mungkin orang-orang mesir kuno sekitar tahun 3000 SM dapat membangun sebuah maha karya berupa Piramida raksasa tanpa kecerdasan dan cara berfikir filosofis? Atau sekitar 4000 tahun yang lalu (tahun 2000 SM) ketika masyarakat lembah sungai indus India berhasil membangun sebuah peradaban kota dengan kecanggihan arsitektur yang luar biasa, kota Harappa dan Mohenjo-Daro yang sangat teratur dan tertata rapi merupakan bukti kecemerlangan filsafat masyarakat sungai Indus kuno. Bahkan ketika menengok Kitab Lagaligo, sebuah karya tulis kuno terbesar dan terpanjang di dunia yang lahir dari rahim masyarakat Bugis, saya lalu bertanya, peradaban apa yang dapat melahirkan sebuah kitab kehidupan sekaliber Lagaligo? Tak mungkin peradaban kecil atau biasa-biasa saja kan? Kemudian saya berani menduga bahwa masyarakat Bugis telah berfilsafat jauh sebelum Thales berfilsafat dan mulai mempertanyakan alam semesta ini.

Dekat dan Tak Dimengerti

HeHhhhjjgliwrjhDDDFHKADUHGKHHhhhbhw bdk
Bagi saya berfikir dan bertanya merupakan dua hal yang berjalan beriringan, ketika mulai memikirkan tentang sesuatu, pada saat itu pula sebenarnya kita sedang mempertanyakan sesuatu itu. Ketika Descartes seorang bapak rasionalisme mengatakan “aku berfikir, maka aku ada”, saya akan menambahkan dengan berkata “aku bertanya, maka aku ada”, karena bertanya bagiku merupakan sebab sebuah eksistensi, terkadang saya bertanya-tanya tentang mereka yang terlalu sering diam, padahal ada banyak persoalan yang perlu kita bincangkan, atau mungkin terlalu memegang teguh konsep tawadhu’ yang meniscayakan seseorang selalu merasa rendah hati, sering kurang tahu, atau bahkan tidak tahu apa-apa. Yah, bagiku di saat kondisi kehidupan saat ini dimana persoalan dan masalah memenuhi hampir semua sektor-sektor inti kehidupan, tawadhu’ model itu tidak lagi kontekstual, kita harus lebih sering memacu diri untuk bertanya, berfikir dan berdiskusi dengan orang lain.

Sekarang saya sedang sibuk menyusuri kata per kata hingga lembar demi lembar sebuah karya filsafat berbentuk Novel yang dikarang oleh Fauz Noor, sebenarnya buku yang berjudul Tapak Sabda itu secara subtansi tidaklah asing, buku yang hampir sama berjudul Dunia Sophie yang ditulis oleh Jostein Gaarder telah lebih dulu aku baca, aku belum berani menyimpulkan bahwa kedua buku tersebut memiliki konsep dan alur yang mirip. Karena aku belum menamatkan si Tapak Sabda. Seringkali kita dibuat bingung oleh hal-hal yang dekat bahkan sangat intim dengan diri dan kehidupan kita, ketika kita mulai bertanya tentang hal-hal itu kita terkadang di buat pusing tujuh keliling.  Itu adalah salah satu poin penting dari sebuah bagian pembahasan dalam buku itu, seperti kutipan pertanyaan “Dimanakah letak kenikmatan tidur?” Setelah membaca itu aku dibuat pusing setengah stres untuk mencari jawabannya. Atau pertanyaan lain seperti “Mengapa saat kita bersedih, kita meneteskan air mata? Semakin kita menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, maka semakin banyak pula pertanyaan-pertanyaan baru bermunculan, ibarat jalan panjang yang berliku tanpa ujung.

Salah sebuah hadist menyebutkan bahwa Tuhan lebih dekat dari urat nadi kita, seberapa dekatkah itu? Belum ada jawaban atau memang tak ada jawaban (manusia) atas pertanyaan itu. Hal itu seolah mengajarkan bahwa semakin dekat sesuatu itu dengan diri kita maka ia akan semakin rumit dan tak terjelaskan (undiscourse), atau dalam bahasa Tapak Sabda “dimengerti ketidakmengertiannya”. Dalam sebuah hadist qudsi yang berbunyi “man ‘arafa nafsahu faqad’ ‘arafa rabbahu” barang siapa mengenal dirinya, dia telah mengenal Tuhannya, Tuhan seolah ingin mengabarkan bahwa manusia adalah manifestasi keberadaan-Nya, sehingga tak aneh ketika Al-hallaj seorang ahli tasawwuf berkata “Ana rabbun”, sebagai wujud pengenalan hamba kepada Tuhannya.

Itulah filsafat, ia senantiasa mendorong kita untuk bertanya dan berfikir secara mendalam (radikal). Aku teringat sebuah ayat dalam Al-quran yang difirmankan oleh Allah ketika ruh hendak ditiupkan ke dalam jasad janin yang dikandung “alastu birabbikum” bukankah Aku Tuhanmu, kata Allah. “qalu bala syahidna” betul, Engkaulah Tuhan kami, kata mereka. Ayat itu mengisyaratkan bahwa kehidupan manusia dimulai dari sebuah pertanyaan. Filsafat tak sama sekali bertentangan dengan agama ketika ia berada pada jalur dan koridor yang benar. walaupun filsafat berangkat dari keraguan (syak) dan agama berangkat dari keyakinan (iman). Menurut AG. Dr. H Sanusi Baco Lc, perbedaan iman dan pengetahuan (filsafat) adalah, Iman menuntut kita menerimanya terlebih dahulu kemudian mempertanyakannya, sedangkan pengetahuan (filsafat) menuntut kita mempertanyakannya terlebih dahulu kemudian menerimanya, antara iman dan pengetahuan tak ada pertentangan karena dalam kehidupan manusia keduanya memiliki proporsi masing-masing.

Filsafat tak akan pernah mereposisi peran dan kedudukan agama, justru ia akan semakin meneguhkannya, karena sejatinya manusia adalah mahluk yang penuh dengan kelemahan dan keterbatasan, hanya Allah lah yang Maha kuasa dan Maha tahu. Sehingga sebebas apapun fikiran terbang menembus cakrawala ilmu dan pengetahuan, itu semata-semata untuk menuju ketundukan kepada Sang khalik, ketaatan pada firman dalam ayat-ayatnya (Al-quran) dan risalah Nabi-Nya (sunnah Rasulullah)

 Maka bertanyalah, karena Aku bertanya maka Aku ada !

|
0

Berfikir Sebagai Identitas Kemanusiaan

Posted by Fadhlan L Nasurung on 1:34 PM in

Pernahkah anda bercermin? Melihat tampilan fisik dari diri anda, atau mencari tahu cacat dan kekurangan fisik yang anda miliki? Bagi manusia modern cermin adalah kebutuhan primer yang harus tersedia di ruang-ruang khusus, agar mereka selalu tampak elegan. Ketika kita menghadapkan diri kita ke arah cermin, kita akan menemukan sosok yang sangat mirip dengan diri kita, dari ujung kaki hingga ujung rambut, kita akan berkata itulah diri saya, setelah itu kita mulai mempersepsikan bahkan meyakini bentuk dan tampilan fisik dari diri kita. Lalu bagaimana kita bisa begitu yakin  bahwa sosok itu adalah bayangan dari diri  kita? Seberapa yakinkah kita bahwa cermin tak akan pernah berbohong? Yah, pertanyaan itu mungkin tak akan pernah menemukan jawaban yang memuaskan, bagi mereka yang telah menganggap berfikir dan bertanya sebagai candu. 

Di depan cermin anda adalah satu-satunya yang memiliki otoritas untuk menilai baik-buruknya diri anda, namun ketika anda keluar dan bertemu dengan banyak orang, mulailah jawaban-jawaban berbeda tentang diri anda muncul satu per satu. Ketika itu anda harus memilih antara mempercayai semuanya, salah satunya, atau justru tak percaya pada semuanya. Mungkin kita harus berterima kasih kepada cermin, karena ia selalu menampakkan diri kita apa adanya. Lalu mengapa cermin tak kuasa mengomentari kita tentang ini dan itu? jawabannya karena cermin adalah benda mati kita semua pasti tahu itu. Jadi mengapa manusia-manusia memiliki cara pandang yang berbeda-beda? Apa karena mereka memiliki kualitas pengindraan yang berbeda? Atau, karena mereka mereka memiliki cara berfikir yang berbeda? Kedua-duanya mungkin benar. Jadi manusia yang tak pernah berfikir tentang sesuatu atau mempersepsikan sesuatu tak lebih mulia dari sebuah cermin yang bisu, dan mereka yang selalu berkata sesuatu yang tidak benar akan lebih hina dihadapan cermin. Maka jadilah orang yang sering berfikir agar tidak menjadi korban dari kebohongan-kebohongan yang kerap kali diumbar oleh orang-orang yang licik.

Ada yang mengatakan bahwa perbedaan manusia dengan mahluk hidup lain (binatang, tumbuhan) terletak pada akalnya, perhatikan ketika terjadi kebakaran di suatu tempat, tumbuhan tak kuasa untuk menghindar apalagi lari, karena fitrahnya hanya hidup, bergerak pada posisinya, tumbuh dan berkembang sedangkan binatang akan berlari menghindari api karena dianugrahi insting untuk mengetahui bahaya, namun ia tak akan pernah kembali untuk mencoba memadamkan api, karena insting yang ia miliki adalah insting yang stagnan dan tidak berkembang, sehingga mereka mustahil belajar dari fenomena-fenomena yang ada. Dari kasus tersebut saya berani menyimpulkan bahwa manusia yang tak mencoba menghindari bahaya tak ubahnya seperti tanaman yang tak punya daya untuk menggerakkan dirinya walau sejengkal dan manusia yang ketika mendapatkan masalah kemudian lari dari masalah itu dan tak pernah kembali untuk menyelesaikannya tak ubahnya seperti binatang, bahkan lebih hina darinya. Hanya orang-orang yang rajin berfikir yang akan selalu menemukan solusi dari setiap permasalahan hidup.

Manusia adalah hewan yang berfikir, kata Al-ghazali suatu waktu. Siapa yang tak kenal tokoh yang berhasil mendialogkan antara filsafat dan tasawwuf ini, meskipun beberapa karyanya terlihat begitu menghakimi filsafat sebagai dalang kesesatan berfikir, dan menjadikan tasawwuf sebagai ilmu kebenaran hakiki. Dalam perdebatan panjangnya dengan para filsuf yang terekam dalam tahafut al-falasifah (kerancuan filsafat) yang kemudian dijawab oleh Ibnu Rusyd dalam tahafut at-tahafut (kerancuan yang rancu) dapat ditangkap bahwa sebenarnya Al-ghazali bukan menolak filsafat, tetapi menolak gaya berfikir sebagian para filsuf yang menggunakan filsafat untuk mendangkalkan keyakinan agama.

Kerangka Berfikir Ala Sekolah

Setiap kali diundang menjadi pembicara dalam forum diskusi tentang Kerangka Berfikir, saya selalu menyampaikan analisis saya tentang perkembangan kerangla berfikir manusia-manusia sekolahan dari waktu ke waktu. Siswa sekolah dasar misalnya memiliki corak berfikir yang putih, sehingga mereka terkadang hanya bisa menerima apa yang diajarkan sebagai sebuah kebenaran yang tak perlu di ganggu-gugat. Beranjak menuju sekolah menengah pertama, umumnya corak berfikir abu-abu adalah yang paling dominan, dimana seringkali mereka melakukan imitasi-imitasi terhadapa berbagai “trend” zaman tanpa kalkulasi baik-buruk. Di era ini para orang tua akan mulai dihantui kecemasan akan kenakalan-kenakalan menjelang masa pubertas anak. Sekolah menengah atas adalah masa transisi pola fikir yang cukup rawan, dimana seringkali puncak kenakalan remaja akan menemui titik kulminasinya, beberapa peristiwa tawuran antar pelajar SMA dan kasus video asusila pelajar seragam abu-abu adalah salah satu yang menyedihkan, walaupun pada tingkat ini mereka telah berada fase aqil balik, dimana nilai baik-buruk telah mendapat perhatian lebih bahkan serius. Juga pada tingkat ini indoktrinasi yang mereka terima akan mulai mengantarkan mereka menuju masa transisi dari fase labil menuju fase stabil baik secara spiritual, emosional maupun intelektual yang akan berlanjut pada fase selanjutnya yaitu fase menjadi mahasiswa.

Saya pernah mendengar seorang Ulama berkata bahwa pada masa transisi dari sekolah menengah menuju kampus banyak remaja yang memiliki ruang kosong dalam dirinya (mungkin ruang kesadaran spiritual) yang ketika salah sebuah doktrin mengisi ruang itu, remaja tersebut akan akan mengalami gejolak yang akan membawa perubahan yang mendasar pada dirinya. Sehingga akan banyak label doktrin dan ideologi yang siap menjemput para mahasiswa baru, proses indoktrinasi dan ideologisasi akan terus berlanjut hingga tahap dimana seorang mahasiswa telah menemukan titik balik kedewasaan berfikir, sehingga ia tak lagi sekedar membebe dan membeo pada produk pemikiran yang ada, tetapi telah mampu untuk juga berfikir kritis. 

Idealnya cara berfikir mahasiswa bukan lagi cara berfikir yang abu-abu ataupun hitam-putih, melainkan cara berfikir yang colourful (kritis) yang tidak melulu menganggap pengetahuan hanya tentang baik-buruk dan salah-benar, pengetahuan bisa mengandung sebuah nilai yang harus diperjuangkan, juga terkadang mengandung sebuah strategi untuk bertahan dan melawan arus yang tak lagi berpihak. Sehingga para mahasiswa harus turut dalam kontestasi perkembangan pemikiran yang lebih rumit dan kompleks, sehingga kekuatan referensial dengan modal bacaan yang melimpah akan membantu mahasiswa untuk menentukan keberpihakan dan sikap yang harus diambilnya. Mungkin tak semua orang mengalami fase-fase tersebut, khususnya mereka yang lari dari sekolah, karena beranggapan bahwa semua orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah.

Berfikirlah, karena subtansi dari manusia adalah akal dan akal tak berarti apa-apa tanpa berfikir!

|
0

Nongkrong Filsafat

Posted by Fadhlan L Nasurung on 7:32 PM in ,
Ombak . . .
Deburan yang menghantam karang
Menampar bibir-bibir pantai
Menyeret sekumpulan endapan-endapan dari buangan
Menghempaskan butir-butir halus terhampar

Terdampar …
Dari keberadaan yang selalu dipersoalkan
Dari sebab-akibat yang selalu menjadi wacana perdebatan
Dari nilai yang selalu menjadi alasan
Filsuf-filsuf berkebangsaan oriental angkat bicara
Meski hanya beberapa yang mampu berdialektika
Tapi itu tak jadi soal untuk tak menyimak dengan seksama
Dan antusiasme untuk juga mau menggerakkan kesadaran untuk bertanya

Itulah filsafat …
Hanya bahasa yang terkadang menjadi jarak antara kita
Untuk mengerti tak harus menunggu ilham merasuk tiba-tiba

Karena aku berfikir maka aku ada (Descartes)



|
0

Aksara Romantika

Posted by Fadhlan L Nasurung on 11:04 PM in
Meluangkan waktu, menyisihkan tenaga dan pikiran, sejenak membawa diri menuju ruang utopis, skeptis, nan kasuistis. Mencoba memintal rangka-rangka kata menjadi sebuah rangkaian yang tak utuh, menyapa langit-langit imaji, bersenda dengan sekelumit partikel-partikel rasa dan emosi jiwa, menjelajah khazanah semiotik dengan sedikit menerawang kedalaman psiko-analitik,  sekedar untuk berefleksi.

Inilah lembar penuh tanda dan kata, mencoba berwacana tentang romantika dengan bahasa yang mungkin sedikit lebay, dan pesan yang mungkin tak sampai. Yah, maklumi saja, karena memang sang penulis bukanlah orang yang pandai merangkai. Sungguh tulisan ini hanya bermodalkan keberanian, dengan secuil pengetahuan, kedangkalan pemahaman, dan kelemahan intuisi, dengan sedikit intrik pengalaman pribadi.

Ini tentang sesuatu yang mungkin tak kita mengerti adanya, yang membuat kita bertanya-tanya, dan memang aneh selayaknya, hingga terkadang kita ragukan kebenarannya, karena mungkin kita  yang tak sepantasnya. Sesuatu itu bernama Romantika, yang terkadang tak mampu dijangkau oleh logika, karena ia bersemayam dalam kerumitan yang niscaya, maka biarlah subyektifitas berbicara.

Setiap manusia memiliki rasa dengan potensi suka dan cinta. Suka tidaklah berarti cinta, karena masing-masing memiliki tingkat totalitas rasa yang berbeda.  Suka merupakan kecenderungan rasa terhadap sesuatu yang lahir secara alamiah, sedangkan Cinta merupakan akumulasi rasa suka  yang telah mengkristal sedemikian rupa, ia bersifat naluriah, tak dapat direkayasa, apa lagi dipaksa.

Menjelaskan cinta secara teoritis adalah sebuah kegilaan, karena cinta masuk dalam kategori sesuatu yang tak terjelaskan (unexplainable), sungguhpun ada yang mampu berteori tentang cinta, itu hanya sekedar usaha nekat yang entah akan menemui penerimaan atau malah gugatan-penolakan. Bagi mereka yang mungkin tak percaya akan existnya Cinta, akan menganggap hal itu sebagai sebuah prasangka, dugaan belaka, dan spekulasi semata. Tetapi bagi mereka sang pecinta, cinta merupakan kebenaran yang tak terelakkan, dengan klaim bahwa karena cinta ada maka segala sesuatu itu ada (Causality).

Berbicara tentang cinta, maka kita akan memasuki sebuah dimensi kehidupan yang sangat dramatis, ia telah banyak  menelan korban raga dan jiwa, karena banyak yang rela terjatuh karena cinta, mabuk karena cinta, diperbudak oleh cinta, bahkan ada yang rela dan harus mati demi cinta. Sebenanya tidak ada yang salah dengan cinta, yang banyak terjadi adalah kesalahan dalam mencinta. Ada yang mendeklarasikan cinta karena motif nafsu belaka, ada  yang mendeklamasikan cinta karena motif materi semata, serta adapula yang mengaku cinta karena  cinta telah benar-benar memenuhi rongga rasa dalam dirinya.

Harus berkata apa lagi, huruf-huruf tak lagi mampu menjelma kata, karena apa yang bernama rasa adalah entitas tak terdefinisi. Sesungguhnya kata tak sepenuhnya dapat memanifestasikan rasa, hanya mampu sebatas merepresentasi dengan sedikit sentuhan-sentuhan estetis, dan polesan retoris.

Maka ketika beranjak menuju sebuah konklusi rasa, logika perlu mengambil tempat untuk mengeksplorasi lebih jauh dan dalam, karena terkadang ungkapan rasa hanyalah bualan penuh dusta, meminjam makna-makna yang menggetarkan dada, bak jelata mengharap derma.

Ekstasi cinta kadang menimpa mereka yang begitu menghamba kepada cita, bahagia, dan suka.  Dalam kedangkalan analisa mereka larut dalam euforia penuh absurditas. Mengharukan memang, karena cinta akan menguras segenap energi rasa dengan begitu polos, sehingga terkadang kita akan terbawa kedalam sebuah kondisi penuh dilema. Hingga akhirnya ketika cinta ternyata tak lagi mampu mencipta suasana hikmad, kita akan mudah mengidap ambivalensi, bahkan rentan mengalami kegalauan. Galau merupakan kondisi dimana jiwa dan pikiran berada diambang ketidakpastian, karena ego, emosi, dan rasa telah saling tumpang tindih, sehingga kestabilan psikis menjadi tertanggu.

Oleh karena fitrah manusia senantiasa ingin dicinta, maka Tuhan telah menganugerahi kita dengan segenap potensi kepekaan, agar mampu menangkap sasmita bahwa dimensi rasa ibarat sebuah panggung orkestra, dimana lantunan nada dan lirik akan membentuk sebuah estetika suara yang membahana, mengundang decak kagum dan takjub.

Kata merupakan satu variabel yang mungkin mampu memediasi rasa dan merefleksikan citra, sebelum sampai pada titik kulminasi dimana magma cinta tak lagi mampu membendung hasrat untuk memiliki dia yang dicinta, karena memendam hanya akan menyengsarakan jiwa.

Mencintai adalah sebuah ritus hidup yang sakral, jangan biarkan ia ternoda oleh profanitas nafsu sesat dan sesaat, hingga hanya akan menjadi epos sejarah yang kusam penuh bercak hitam, cerita cinta tak perlu didramatisir layaknya kisah laila-majenun atau romeo dan juliet, meskipun keduanya mewakili drama cinta dari timur dan barat. Cinta bukan untuk berakhir air mata duka, tetapi untuk membawa suka dan cita dalam hikmad ibadah hidup, memaknai cinta sebagai sebuah entitas illahiah akan mengantarkan kita pada kesadaran bahwa cinta hanya berhak dialamatkan kepada Dia Sang pemilik cinta, yang akan senantiasa memberi cinta kepada para hamba-Nya yang melakukan aktivitas, rutinitas, ritualitas dan aktualitas diri hanya karena dalih Cinta. Maka biarkan cinta menjadi alasan mengapa kita harus hidup dan mati, karena cinta adalah aksara Tuhan yang bersemayam di lauhul mahfudz, hanya mampu terjamah oleh cakrawala mahabbah, hakikat, dan ma’rifah.



|
0

Belajar Berfilsafat

Posted by Fadhlan L Nasurung on 2:42 AM in

Sebuah kesadaran awalnya lahir dari "membaca", membaca yang kauniyah, yang tampak dan yang terjamah oleh panca indra, membaca teks dengan simbol-simbol bahasa tertulis atau membaca setumpuk persepsi dan sudut pandang serta asumsi-asumsi yang menghadirkan banyak diskursus pemikiran, dilanjutkan dengan agenda kerja kritisisme untuk menyeleksi setiap ide hingga melahirkan sebuah produk pemikiran dalam bentuk yang baru atau sekedar memperbaharui ide yang telah ada, kemudian mencipta kesadaran ber-ide. Kesadaran yang lahir adalah sebentuk manifestasi nalar yang telah mendayahgunakan fungsi epistemologinya, sehingga aktifitas membaca menjadi produktif dan tidak hanya larut dalam dialektika bahasa tetapi bagaimana berdialektika dengan ide dan realitas.

Kadang sebuah kontemplasi akan melahirkan spekulasi-spekulasi terhadap berbagai hal, menghadirkan diri dalam sebuah prasangka, atau membawa diri menuju dugaan-dugaan yang polos, tak jarang kita menjadi pesimistik, semua itu ngawur dan tidak ilmiah, lalu kita mulai menzholimi diri dengan menganggap adalah hal yang lancang ketika berani berfikir tanpa pengetahuan yang super. Padahal secara sadar atau tidak sadar pada saat itu kita telah membebaskan nalar kita untuk menjelajahi cakrawala imajinasi yang luas tanpa harus diperhadapkan pada batasan-batasan atau defenisi-definisi logis-ilmiah dan kawan-kawannya. Dan tanpa sadar pula pada saat itu sebenarnya kita sedang berfilsafat.

Manusia : Mahluk yang Berfilsafat

Banyak orang yang mengklaim bahwa berfilsafat adalah sebuah aktifitas eksklusif  milik para pemikir kelas tertentu, berfilsafat adalah aktifitas dari kerja otak yang sangat melelahkan dan menyita waktu. sehingga jurusan filsafat di hampir seluruh universitas swasta ataupun negri di Indonesia adalah jurusan yang paling sepi  peserta didik. Bahkan banyak mahasiswa yang sebisa mungkin akan menghindari mata kuliah filsafat  karena dihantui momok stereotipe terhadap filsafat. Secara sederhana berfikir berarti berfilsafat, meskipun dalam perkembangannya berfilsafat lebih dimaknai sebagai sebuah proses berfikir yang rasional, kritis, radikal dan sistematis. namun menyederhanakan pengertian filsafat adalah sesuatu hal yang perlu untuk menghindari esklusifitasnya. Jadi semua orang sebenarnya selalu berfilsafat dalam kualitas yang berbeda-beda, sehingga mengatakan bahwa semua manusia adalah filsuf bukanlah argumentasi bohong, kecuali bagi mereka yang tidak mau mendayahgunakan dan memaksimalkan potensi akal yang jauh lebih unggul dari kecanggihan teknologi manapun di abad millenium ini. Hanya saja mereka yang meiliki pemikiran atau ide yang luar biasalah yang berhasil mencatatkan namanya dalam deretan pemikir-pemikir (Filsuf) yang sampai hari ini karya-karyanya masih menjadi bahan bacaan dan pembelajaran sebagai referensi pengetahuan di berbagai belahan jagat.

Socrates pernah menghadirkan sebuah konsep atau lebih tepatnya proyek pengetahuan tentang logos dan mitos, logos dimaknai sebagai pengetahuan-pengetahuan yang rasional dan dapat dibuktikan secara ilmiah, sedangkan mitos hanya berupa kepercayaan-kepercayaan yang distigmatisasi tidak rasional dan tidak dapat dibuktikan melalui pendekatan ilmiah. Sebagai bapak filsafat Socrates tentunya memahami betul konstalasi dunia pemikiran pada saat itu, sehingga dia bisa saja mencipta konsepsi-konsepsi sesuai dengan kecenderungan nalarnya. Melihat konteks Indonesia dengan lokalitas-lokalitas kultural yang plural, menggunakan konsepsi tersebut akan menggusur kekayaan nalar lokal yang merupakan identitas diri masing-masing empunya, Mengingat betapa banyak produk lokalitas kita yang divonis sebagai mitos, tidak masuk akal dan tidak logis oleh para pemikir oksidental. Bukan karena memang benar-benar tidak masuk akal atau tidak rasional tetapi justru  nalar berfikir merekalah yang tidak mampu menjangkaunya, dan seringkali kita merestui hal tersebut dan tidak lagi pernah mau mengenal, mengetahui dan memahami akar kultur oriental yang menjadi pondasi ke-dirian kita secara lebih mendalam. 

Saatnya mendekonstruksi dominasi opini bahwa hanya seorang dengan kemampuan  berfikir rasionallah yang memiliki otoritas untuk menentukan ilmiah dan non-ilmiah, logis dan tidak logisnya suatu idea atau pengetahuan, bahkan pemaksaan opini bahwa merekalah  yang berhak memonopoli kebenaran. Manusia adalah mahluk yang merdeka berfikir tanpa harus terikat asas legal-formal serta kualifikasi-kualifikasi tertentu, karena yang terpenting adalah bagaimana berfikir secara sadar diatas realitas dan ide dengan tidak megabaikan naluri kemanusiaan dan nurani sebagi mahluk yang ber-hati. Ilmu dan pengetahuan bukanlah sesuatu yang netral, di sana .akan selalu terkandung nilai-nilai yang menjadi acuan dan memiliki tujuan, maka mengetahui bagaimana dan untuk apa suatu ilmu atau pengetahuan itu lahir adalah hal yang wajib bagi mereka yang tidak ingin terjebak dalam kekakuan dan kebekuan berfikir. Dalam sejarahnya filsafat memang seringkali melahirkan gejolak, dari gejolak pemikiran hingga gejolak sosial yang menjatuhkan banyak korban para pemikir itu sendiri. Pernah dalam fakta sejarah sebuah otoritas agama dengan piciknya menghukumi seorang filsuf hanya karena perbedaan interpretasi kosmologi. akibat kecurigaan bahwa keberadaan filsafat akan mereposisi peran agama yang bersifat dokmatis-theologis, padahal sejatinya filsafat justru ingin menguatkan posisi agama yang kala itu mengalami degradasi yang sangat dalam akibat kejumudan dan kepicikan berfikir akibat kalap teks. Saya yakin semua agama memberikan kebebasan kepada umatnya untuk mendayahgunakan potensi akal pikiran dan nalar untuk meciptakan kemaslahatan-kemaslahatan bagi semesta kehidupan.

Bukanlah sebuah ketabuan ketika setiap manusia melakukan dekonstruksi-aktif terhadap setiap diskursus pemikiran yang paradigmatik, karena subyektifitas nalar adalah keniscayaan yang akan senantiasa hadir menyertai lahirnya ide dari seorang pemikir. "Cogito ergo sum" adalah produk subyektifitas nalar Descartes, yang mendeterminasi berfikir sebagai sumber eksistensi atau menjadi sebab sebuah eksistensi. Secara pragmatis hal itu sepenuhnya tidak salah, namun perlu ditinjau kembali dengan pendekatan yang lebih proporsional, yakni tidak semata-mata menjadikan akal dengan segala potensinya menjadi sumber atau pondasi eksistensi dengan mengesampingkan potensi lain yang telah Tuhan anugerahkan kepada manusia. Karena manusia bukan sekedar "Hewan yang berfikir" tapi juga dia yang memiliki hati dan nurani suci yang jauh dari sifat kebinatangan. Sejatinya fisafat yang menggunakan akal sebagai instrument utama tidak akan pernah bertentangan dengan hal yang bersifat kasuistik. karena filsafat bertujuan untuk mencari sebuah kebenaran yang lahir dari kesadaran kritis dan tidak semata-mata dogmatis. Ketika sebagian orang mengatakan bahwa berfilsafat akan menjauhkan diri dari Tuhan yang Maha abstrak, justru sebaliknya, filsafat akan membawa kita kepada keber-Tuhan-an yang bukan semata-mata karena faktor biologis dan warisan dokmatis, namun keber-Tuhan-an yang hakiki, dengan tetap berpedoman pada tuntunan wahyu Illahiah.

|

Copyright © 2009 Manusia Cipta All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.