Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts
0

Anomali

Posted by Fadhlan L Nasurung on 11:37 AM in


Seiring hujan membasahi tanah, bebatuan dan daun-daun bersorak
Seketika malam berpendar cahaya dari deret tiang-tiang menjulang
Seumpama kita tak seperti saat senja merona di ufuk cakrawala
Sepatah-kata kelak akan mampu menggores luka, lalu hujan menjadi tempat bersinggah

Sebagaimana idealitas terbang tertiup badai, hilang tersapu derasnya arus
Kenangan hanyalah cerita usang penuh debu di atas buku-buku tua
Kusam dimakan usia
Membiarkannya lapuk digerogoti masa
Kemudian kita hanya bisa berkisah, dulu!

Mungkin benar bahwa kita tengah mengidap lupa
Pada segala dalam kurun waktu sejarah
Hingga gontai melangkah tak tentu arah
Maju kebelakang lalu mundur kedepan

Itu sebuah lelucon yang pantas ditangisi
Agar kita menertawai diri sendiri
Musabab hati kian gersang
Akal kian berkarat 

Sesaat setelah hujan reda dan langit menjadi cerah
Semua akan terjaga dari halusinasi panjang
Membuka mata lalu mulai bermimpi
Bahkan, kita seringkali terbangun untuk kembali tidur!


|
1

Cinta di Simpang Kuasa, Ideologi dan Keyakinan (Resensi Novel Jejak)

Posted by Fadhlan L Nasurung on 10:39 AM in ,


Cinta adalah bahasa universal milik semua insan, ia merasuk ke dalam sukma sehingga seringkali tak mampu dijangkau oleh logika. Cinta adalah sebuah konsepsi yang tak butuh didefinisikan, apalagi diinstitusikan, cinta adalah mahluk liar yang paling sulit untuk dijinakkan, karena ia seringkali datang secara tiba-tiba melalui berbagai aras dari sisi kemanusiaan hingga keTuhanan. Dalam banyak kisah, cinta yang merupakan sisi paling luhur dari kehidupan, menjadi titik temu berbagai kutub perbedaan yang ada, dari perbedaan agama, suku, ras dan golongan. Bahkan dalam sebuah pertarungan kuasa yang menjadi sebab konflik dan peperangan dari masa ke masa, cinta selalu saja hadir melakukan harmonisasi, menampakkan wajah terdalam dari kemanusiaan.

Pepi Al-Bayqunie seorang intelektual muda NU asal Makassar, mencoba menghadirkan wajah kemanusiaan itu dalam buku yang berjudul “Jejak”, sebuah novel roman yang mengangkat kehidupan sebuah komunitas agama lokal di Sulsel. Walaupun tidak secara vulgar menyebut komunitas lokal itu dalam narasinya, namun sistem tanda dan simbolitas yang dibangun untuk menggambarkan komunitas lokal yang menjadi salah satu latar inti dari kisah percintaan yang diangkat, menunjuk komunitas To Lotang yang dalam Novel ini disebut dengan term Tobare.

Di Sulawesi-selatan terdapat beberapa komunitas agama lokal yang masih bertahan hingga kini, komunitas lokal tersebut umumnya hidup jauh dari komunitas mainstream, baik secara agama maupun kebudayaan. Sebut saja komunitas agama To Lotang atau To Wani yang dapat kita jumpai di Kabupaten Sidrap Sulawesi selatan, komunitas tersebut merupakan satu di antara beberapa komunitas lokal di Sulsel yang sukses mempertahankan eksistensinya ditengah desakan arus agama dan kebudayaan yang datang dari luar. 

Islam sebagai agama universal (rahmatan lil alamin) yang masuk ke Nusantara sejak ratusan tahun yang lalu, bertemu dengan berbagai corak agama dan keyakinan masyarakat lokal di berbagai wilayah, pertemuan yang terjadi antara Islam dan berbagai wajah lokalitas itu umumnya terjalin secara kultural, Islam di masa-masa awal kedatangannya di Indonesia, dibawa oleh para spiritualis (Wali-sufi) yang dengannya Islam hadir dengan paras kerahmatannya. Islam yang secara formal datang dari jazirah Arab nun jauh di sana, disebarkan tidak melalui otoritas politik, melainkan melaui dialog kultural yang berlansung secara gradual dan damai. 

Di era sekarang, wajah Islam yang direfleksikan oleh kaum muslimin sedang di uji dalam belantika kebudayaan dan peradaban ummat manusia. Isu terorisme yang seringkali diasosiasikan dengan ajaran Islam, seolah ingin mendistorsi wajah kerahmatan Islam. Kekerasan dan teror yang selama ini dilakukan oleh oknum-oknum yang mengaku beragama Islam, memunculkan stigma negatif terhadap Islam sebagai agama yang mengusung fundamentalisme dan ekstrimisme. Padahal hal tersebut sama sekali bukanlah bagian dari ajaran Islam, melainkan sesuatu yang lahir dari mereka yang memiliki iman sedemikian tebal tetapi mengalami gagal faham.

Dalam novel “Jejak” Irfan seorang mahasiswa tingkat akhir di salah satu Universita terkemuka di Sulawesi selatan, melakukan serangkaian perjalanan untuk menguak berbagai misteri yang selama beberapa waktu menghantui kehidupannya, perjalanan tersebut tidak hanya tebatas dalam arti fisik, tetapi juga perjalanan menelusuri gugusan makna dalam dialektika kehidupan yang dijalaninya, dimulai ketika hasrat cintanya kepada seorang perempuan bernama I Coppo Bungaeja semakin menunjukkan gerak dan isyarat positif. 

Belakangan terungkap bahwa I Coppo Bungaeja merupakan anak gadis keturunan seorang pemimpin tertinggi komunitas agama Tobare. Kisah romantika Irfan dan I Coppo Bungaeja berlanjut pada sebuah perjalanan kultural-spiritual akan komunitas lokal Tobare yang harus hidup dengan cara mimikri. Secara kultural mereka tak jauh beda dengan penganut agama Islam pada umumnya, namun secara formal mereka oleh Negara “dipaksa” menganut hindu sebagai agama pada kolom KTP mereka, mereka menerima itu semata untuk memperolah akses sosial, politik dan pendidikan sebagai warga Negara yang sah, juga sebagai strategi pertahanan demi keberlanjutan generasi. Sedang ke”Tobare”an mereka menjadi identitas privat yang hanya diketahui oleh masyarakat sesama komunitas. 

Ketika PKI menjadi kelompok yang dimusihi oleh Negara di masa orde baru, komunitas Tobare juga mengalami masa-masa sulit, dimana mereka dituduh berasosiasi dengan kelompok PKI. Inkuisisi, pengasingan hingga pembunuhan pernah menjadi sejarah kelam komunitas ini ketika berhadapan dengan penguasa di era orde baru.

Pada penggalan kisah tentang sisi kelam komunitas Tobare di atas, ada sebuah fakta yang ingin disajikan oleh penulis, tentang apa yang benar-benar pernah melanda komunitas lokal To Lotang, saat Negara menempatkan mereka sebagai tersangka dalam kasus yang mereka tak terlibat di dalamnya. Keteguhan mereka dalam menganut keyakinan agama nenek moyang yang telah ada sebelum ke lima agama resmi di republik ini ada, seolah menjadi kutukan yang membuat mereka harus menjadi komunitas marginal di tanah sendiri.

Novel “Jejak” juga menampilkan wajah berbeda dari Sunni-Syiah yang kerap terlibat dalam pertarungan idelogi dan politik. Sehingga seringkali kedua aliran Islam dengan penganut terbesar tersebut menarik jarak satu sama lain, bahkan konflik fisik kerap terjadi dan mengoyak rasa persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) antara keduanya. Perbedaan ideologi dan pemahaman menjadi kambing hitamnya. Untuk mendamaikan konflik tersebut, dalam Novel ini penulis kemudian menyuguhkan sebuah titik awal, saat Islam belum mengenal Sunni-Syiah dan aliran dalam Islam lainnya. Bahkan lebih jauh dari itu, ketika Tuhan menciptakan manusia pertama, tanpa atribut agama dan identitas primordial, kehidupan hadir dalam sebuah harmoni.

Dengan kembali ke titik kesadaran awal itu, kita akan menjadi faham, bahwa konflik atas nama agama, suku dan golongan adalah produk sejarah, dimana kuasa menjadi faktor utama penggeraknya. Maka tak seharusnya atas nama kebenaran dan perbedaan, kita saling menegasikan satu sama lain! 

Peresensi        : M. Fadlan L Nasurung
Judul Buku     : Jejak
Penulis            : Pepy Al-Bayqunie
Penerbit          : Pustaka Mafaza, Solo
Cetakan          : 1, Januari 2015
ISBN               : 978-602-7826-10-6
Tebal                : vi + 188 Halaman


|
0

Jejak Perjalanan

Posted by Fadhlan L Nasurung on 12:55 PM in


Kita belum sama sekali tiba
Kita baru sekedar memulai, bergerak menuju langkah demi langkah
Di jalan-jalan yang kita yakini sebagai jalan-Nya
Sesekali menengok gugus peristiwa dan rentang waktu yang terlewatkan

Mungkin beberapa orang mengira bahwa sederet kisah hanya untuk cerita masa tua
Selaksa suka-duka yang datang silih menerpa
Kiranya juga hadir dengan segala plus-minus sejarah
Kita, biarlah turut jadi pembaca yang coba menduga, semua fakta atau hanya omong belaka

Ada ranah tempat jejak-jejak terjamah
Di antara sisa-sisa kejujuran yang masih tersandera
Di balik rupa
Di kedalaman sukma

Kita belum juga tiba
Kita baru saja beranjak dari titik percaya
Di kaki langit semesta
Ada Tuhan sedang menanti hamba, bukan raja!

|
0

Gugatan Hutan

Posted by Fadhlan L Nasurung on 11:56 PM in
Hari ini ada mendung yang berarak
Memberi harapan palsu
Semua telah mengira bahwa ada rentetan hujan yang segera menimpa kering
Udara bahkan angin telah turut mengibas senyum 
Tetapi, ternyata awan sekedar berparade unjuk eksistensi

Alam raya, pun seperti ruang tanpa isyarat-isyarat pasti
Kemarau dan hujan bisa saja bertukar posisi
Entah dengan atau tanpa peringatan dini 
Bumi sewaktu-waktu dapat mengalami demam, flu dan batuk, agar manusia tahu diri

Coba lihat hutan raya di kaki langit Sumatera
Atau surga belantara di telapak bumi Kalimantan
Demonstrasi bergemuru, kepulan asap menderu
Paru-paru jagad tengah mengidap kanker stadium tanpa solusi

Lalu apa kabar hutan Sulawesi?
Setidaknya di pedalaman Butta Panrita Lopi
Masih bersemi kasih dan jejak kearifan yang lestari
Dimana alam dan manusia berdamai, bersahabat dan saling mengisi
Karena bumi, bukan pabrik yang akan terus memproduksi kebutuhan manusia serakah!


|
0

Anak Zaman

Posted by Fadhlan L Nasurung on 12:52 PM in

Lalu pada malam kau sering mengadu
Yakinmu, di sana ada jejak-jejak Tuhan
Di kolong jembatan, trotoar jalan, hingga lorong-lorong kesempitan
Menengadah ke langit bisu, itu bukan gayamu

Akupun harus mengaku padamu
Kau terlalu sibuk membiarkan hari-harimu menjadi kumuh
Sedang yang lain berlomba menumpuk pundi-pundi
Bahkan di altar tempat-tempat suci, ada saja yang bergosip tentang untung-rugi

Yah, kau manusia super aneh yang pernah terlibat dalam drama hitam-putih ini
Ada irama sendu dan aroma teduh
Kau membuat semua terpesona, dengan gerakan bibir yang berhati
Beda dengan mereka yang suka menggertak sambil memaki

Kau mungkin Tomanurung yang diutus oleh Batara
Saat zaman mulai lelah dengan pengap problema
Atau, boleh saja kau adalah Jayabaya
Seorang yang dinanti membawa risalah dari Sang Hiyang Taya
Sebagai pembebas tentunya

Siapapun Kau
Aku hanya ingin dongeng ini menjelma selayaknya Doa
Semoga Tuhan berkenan mengijaba
Suatu ketika, seorang muda akan datang dari suatu masa
Menyeru manusia hidup untuk semata-mata Beribadah!

|

Copyright © 2009 Manusia Cipta All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.